Buku-buku Spiritual Leadership yang Ditulis oleh Stephanus Tedy R.Dapat dibeli di TOKOPEDIA

SOGOMI DALAM PELAYANAN







Our presence and footprints are not an option 
Sogomi = Leadership Present 
Kehadiran dan jejak kaki kita bukan merupakan suatu pilihan 
Sogomi = Kehadiran Kepemimpinan




By: Stephanus Tedy R.



Kita semua rindu akan kehadiran Tuhan. Kita juga rindu kehadiran orang-orang yang mengasihi kita terutama orang yang menjadi berkat atau membuat hidup kita menjadi lebih bermakna. Itu alamiah dan wajar. Sebagai pemimpin kita memimpin dengan kehadiran kita (Leadership by Present).
Seorang teman di daerah ketika membuka minimarket baru punya kebiasaan aneh. Ia sering meminta pamannya yang sudah tua dan agak rabun untuk duduk di sudut samping meja kasir dan ikut membantu membungkus barang. Kejadian ini dilakukan ketika teman saya ini tidak sempat memeriksa tokonya yang baru dibuka. Saya agak bingung, mengapa oom yang sudah tua dan tidak menarik ini ada disana? Teman saya menjawab, kehadiran sang paman walaupun tidak berbuat banyak membuat sistem dan prosedur yang baru diimplementasikan di toko itu menjadi berjalan sesuai harapan.
Menjadi natur manusia untuk memerlukan seorang tokoh atau sosok yang menjadi panutan dalam setiap situasi. Inilah sebabnya dalam pabrik pasti ada mandor yang menjadi pengawas dari proses produksi. Di supermarket ada supervisor, kepala gudang dan store manager. Orang-orang dalam organisasi (terutama yang mulai agak besar) memang tidak mau diatur, tetapi sangat rindu untuk dipimpin. Mereka merindukan pemimpin yang sungguh-sungguh mewakili dan memimpin mereka. Apa jadinya jika di gereja tidak ada worship leader? Tidak ada usher? Tidak ada yang berkhotbah atau mengajar di mimbar? Kita segera merasakan ada hal yang tidak lengkap.
Setiap pemimpin unit dapat hadir dengan dua cara. Pertama, hadir secara fisik. Kedua, hadir dan meninggalkan jejak dengan hasil kerja atau buah pelayanan mereka.
Secara fisik kehadiran seorang pemimpin bisa dilihat dan dirasakan. Orang-orang Jepang menggambarkan situasi kehadiran pemimpin ini dengan satu kata: sogomi. Leadership present. Seorang pemimpin yang menjadi dirinya sendiri/asli, berani, dapat dipercaya, ulet dan keras hati, memiliki pandangan optimis dan positif, akan memiliki dampak yang sangat besar bagi orang yang dipimpinnya. Itulah sebabnya, dalam pertempuran salah satu strategi untuk menjatuhkan moral prajurit musuh adalah dengan membunuh/menangkap pemimpinnya lebih dahulu. Kehilangan pemimpin membuat pasukan musuh akan tercerai berai dan lebih lemah sehingga mudah dikalahkan. Para pemimpin di Christ Cathedral dapat menunjukkan sogomi dengan duduk di kursi barisan paling depan. Jika penuh, di barisan kedua dari depan. Secara fisik dan spirit Jemaat akan merasakan perbedaan jika para pemimpin duduk di depan. Kita merasakan ada perisai rohani yang melindungi kita. Ada Sense of unity. Sense of security. Sense of harmony. Mengenai para pemimpin Rasul Paulus mengingatkan para Jemaat:
Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu. (Ibrani 13:17)
Secara ilmiah para ahli psikologi dan ahli perilaku sudah meneliti dan berkesimpulan bahwa sogomi selain pembawaan alamiah juga bisa dipelajari dengan memperhatikan aspek berikut:
1.   Bahasa Tubuh [Body language]. Ketulusan dan keberanian dapat terlihat dengan bahasa tubuh yang mendukung. Posisi tubuh dan tangan terbuka. Kaki tidak menyilang. Kontak mata terhadap lawan bicara. Postur tubuh. Dan seterusnya.
2.    Penampilan [Appearance]. Riset menunjukkan cara berpakaian dan menampilkan diri akan mempengaruhi sikap dan perilaku orang lain terhadap pemimpin. Berpakaianlah yang pantas, rapih dan sopan serta sesuai dengan lingkungan dan acara yang sedang berlangsung (dress code).
3.  Sikap dan Sopan-santun (Demeanor]. Cara pemimpin membawakan diri dan tata krama secara umum mendukung sogomi seorang pemimpin.
4. Intelek dan Keahlian [Intellect and Expertise]. Intelek ditunjukkan dengan cara mengemukakan pendapat dan saran-saran. Keahlian ditunjukkan dengan hasil kerja.
5.  Komunikasi (Communication). Komunikasi sangat menentukan. Isi pesan dan cara pesan disampaikan merupakan hal yang kritis.
6. Mendemonstrasikan Values [Values-in-action]. Nilai-nilai hanya dapat ditularkan jika pemimpin sudah menjadi nilai itu sendiri. Anda tidak dapat cuma mengajarkan atau membangun nilai-nilai dan budaya kepada Jemaat. Anda harus menjadi nilai-nilai dan menjadi budaya lebih dulu. Seperti anak yang meneliti orang tuanya demikianlah Jemaat akan melihat apa yang dilakukan pemimpin dalam kehidupan sehari-hari dan selalu ingin tahu apakah pemimpin selalu menerapkan khotbah / pesan yang disampaikan setiap hari Minggu dari mimbar atau dalam pengarahan.
7.  Mempraktekkan 4 Elemen [Interpersonal Behavior Patterns]. Pemimpin tahu setiap orang unik dan akan berkomunikasi dengan setiap orang dengan cara yang unik, sesuai dengan temperamen orang yang bersangkutan.
8. Keahlian interpersonal [Interpersonal Skills]. Cara bergaul. Cara bersosialisasi. Cara menghadapi orang lain sesuai dengan budaya setempat.
9.    Hasil-hasil [Ability to Deliver Outcomes]. Tanpa hasil seorang pemimpin tidak akan dihormati dan dihargai. Pemimpin bisnis dihormati jika dapat menghasilkan banyak tanpa melanggar hukum. Pemimpin rohani akan dihormati jika dapat membangun dan mengembangkan Jemaat biasa menjadi para pemimpin. Bahkan dalam bidang kehidupan kerohanianpun ada indikator kunci yaitu buah Roh (Galatia 5:22-23).
10. Penggunaan wewenang yang tepat [Correct Use of Power]. Yesus sudah memberikan teladan dengan sikap lemah lembut (lembut tapi tegas). Kekuasaan dan fasilitas digunakan untuk membangun, bukan untuk merusak apalagi menghancurkan. Pengendalian diri dan kedewasaan rohani memegang peranan kunci dalam penggunaan wewenang yang tepat.

11. Karakter dan Nama baik [Character and  Goodwill]. Kombinasi point 1 – 10 akan membangun karakter dan nama baik bagi pemimpin. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada kemudahan. Semuanya harus diperjuangkan.


TED-LV08112017




DAPATKAN BUKU TULISAN STEPHANUS TEDY DI TOKOPEDIA:





15 KESALAHAN CARA BERPIKIR YANG MERUSAK DAN MENGHANCURKAN KEPEMIMPINAN ANDA





15 KESALAHAN CARA BERPIKIR YANG MERUSAK DAN MENGHANCURKAN KEPEMIMPINAN ANDA


Pola berpikir akan sangat menentukan kemajuan atau kehancuran seorang pemimpin. Orang Ibrani kuno tidak mengenal otak (brain) sebagai pusat berpikir, tapi hati (heart).[1] Oleh sebab itu, dalam perjanjian lama berulang-ulang dan banyak ayat yang berbicara masalah hati. Di dalam Alkitab Terjemahan Baru ada sekitar 787 ayat yang berkaitan dengan masalah hati.

Penulis Amsal 23:7a mengatakan: Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. Hati yang menentukan cara berpikir, cara bersikap dan bertindak seseorang. Hati yang menentukan apakah seseorang akan sukses atau gagal dalam perjalanan seorang pemimpin mengikuti jejak Tuhan Yesus. 

Begitu penting masalah hati ini sehingga Amsal 4:23 mengatakan: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Ya, hati menentukan kehidupan atau kematian diri kita.

Merupakan tanggungjawab pribadi setiap pemimpin yang melayani dalam dunia kerja, usaha dan pelayanan untuk selalu menjaga hatinya sendiri dari pola berpikir yang keliru serta segala pengaruh negatif dunia yang seringkali menggoda atau menyerang pemimpin.

Oleh sebab itu, Rasul Paulus menasehati kita: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)
Berikut adalah 15 hal yang menjadi tanggungjawab pribadi setiap pemimpin dan harus dijaga, diwaspadai serta dikelola dengan baik agar pemimpin tidak terjatuh ke dalam jurang kehancuran yang diizinkan terjadi oleh diri sendiri.

1.    Ouch that’s hurt ! You let something deeper than you should. Aww.. sakit sekali ! Anda membiarkan sesuatu lebih dalam daripada seharusnya. Anda berpikir berlebihan. Over thinking. Memikirkan perkataan dan perbuatan orang lain dan mengasumsikan bahwa itu merupakan sindiran atau serangan pribadi terhadap Anda. Pemikiran yang berulang-ulang di dalam hati ini membuat Anda sangat yakin bahwa Anda memang menjadi korban dari ketidakadilan. Hati Anda dapat menjadi kesal dan marah. Padahal Alkitab sudah mengatakan: Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Efesus 4:26). Apapun yang Anda simpan sampai matahari terbenam, akan mengendap dalam hati Anda dan akan menampakkan dirinya di pagi hari. Jika terus menerus dilakukan, maka akan menimbulkan luka di dalam hati Anda. Jika tidak sadar, proses melukai diri akan berjalan di bawah sadar Anda selama puluhan tahun. Luka yang berproses ini akan menumbuhkan akar pahit. Alkitab mengatakan: Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. (Ibrani 12:15). Kita harus sungguh-sungguh memegang ayat ini karena kita tidak akan pernah tahu seperti apakah dan kemana arahnya jika kita tetap menyimpan luka hati dan tidak menyelesaikannya. Baik dalam hubungan penikahan, hubungan antar saudara, antar rekan kerja, antar tim pelayanan atau rekan bisnis serta persahabatan Anda.
2.     They have no excuse to what they said or did. Mereka tidak memiliki alasan untuk apa yang mereka katakan atau lakukan. Anda merasa dikontrol secara eksternal, Anda melihat diri Anda sebagai obyek yang tak berdaya, korban nasib. Merasa dikendalikan secara eksternal membuat Anda terjebak. Anda tidak percaya Anda benar-benar dapat mempengaruhi bentuk dasar kehidupan Anda, apalagi membuat perbedaan di dunia. Kebenaran dari masalah ini adalah bahwa kita terus-menerus membuat keputusan, dan bahwa setiap keputusan mempengaruhi kehidupan kita. Jika Anda merasa benar-benar diserang, cobalah mengerti apa yang terjadi dengan diri mereka. Mungkin mereka sedang mengalami hal yang buruk dan melimpahkan kekesalan hati mereka kepada lingkungan sekitarnya dan kebetulan Anda berada disana. Disini respon Anda menentukan. Apakah Anda responsif atau reaktif. Mungkin saja mereka tidak menumpahkan kekesalan kepada Anda, tapi kepada diri mereka sendiri dan kebetulan saat itu Anda berada di dekat mereka.  
3.    They will not listen or understand. Fallacy of Fairness. Mereka tidak akan mau mendengarkan atau memahami Saya. Keadilan yang keliru. Anda merasa kesal karena Anda pikir Anda tahu apa yang adil, tapi orang lain tidak akan setuju dengan Anda. Keadilan begitu mudah didefinisikan, sehingga menggoda untuk berpikir yang mementingkan diri sendiri, bahwa setiap orang akan terkunci ke dalam sudut pandangnya sendiri. Anda tergoda untuk membuat asumsi tentang bagaimana hal-hal akan berubah jika orang benar-benar adil atau benar-benar menghargai Anda. Tapi orang lain hampir tidak pernah melihatnya seperti itu, dan menyebabkan Anda berakhir dengan merasakan lebih banyak rasa sakit dan rasa benci yang terus bertumbuh. Anda mengasumsikan orang yang Anda anggap menyakiti Anda tidak mau berkomunikasi dengan Anda. Anda tetap diam. Semakin Anda tidak mau berkomunikasi, semakin Anda akan berpikir mengulang-ulang kejadian menyakitkan itu dan semakin besar perasaan luka itu berkembang dalam diri Anda.



4.       I can’t get over this. Saya tidak dapat melewati hal ini. Anda merasa diri Anda menjadi korban. Daripada tetap terus berjalan (moving on) Anda malah menyalahkan orang lain. Anda berpegang teguh pada keyakinan bahwa orang lain yang bertanggung jawab untuk kesakitan Anda, atau mengambil taktik lain dan menyalahkan diri sendiri untuk setiap masalah yang terjadi. Menyalahkan sering membuat orang lain bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan yang seharusnya memang menjadi tanggung jawab kita sendiri. Dalam sistem menyalahkan, Anda menyangkal hak Anda (dan tanggung jawab) untuk menegaskan kebutuhan Anda, mengatakan tidak, atau pergi ke tempat lain untuk memperoleh apa yang Anda inginkan. Anda melakukan penyaringan: Anda mengambil rincian-rincian negatif dan memperbesar mereka, sementara menyaring semua aspek positif dari sebuah situasi. Sebuah detail tunggal dapat dipilih, dan seluruh acara menjadi diwarnai oleh detail tunggal ini. Ketika Anda menarik hal-hal negatif di luar konteks, terisolasi dari semua pengalaman yang baik di sekitar Anda, Anda membuat mereka lebih besar dan lebih mengerikan daripada yang sebenarnya. Padahal Alkitab berkata: Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! (Mazmur 34:3). Jika Anda meletakkan Tuhan dalam posisi tertinggi dan membesarkan nama-Nya di atas semua hal, maka hal-hal baik akan terjadi dalam hidup Anda. Sebaliknya jika Anda meletakkan hal-hal kecil, sepele bahkan kesalahan orang lain menjadi utama dalam kehidupan Anda, maka Anda akan mengalami hal-hal buruk yang diturunkan dari cara melihat sesuatu dalam kacamata hal-hal kecil tersebut. Pilihan selalu ada di tangan Anda.
5.  Wow, I’m not the only one. Wow, Saya ternyata bukan satu-satunya. Saya berani menjamin, apapun perasaan Anda, You always find someone who will reinforce what you feel and what you think. Burung yang bulunya sama akan berkumpul bersama. Misalnya Anda merasa suara musik dalam Ibadah Raya terlalu keras, Anda berkata bahwa ada banyak sekali dan semua orang merasakan apa yang Anda rasakan. Pernyataan “Banyak sekali” harus dikonfirmasi ulang. Apakah hanya 2 orang. Apakah 5 orang. Apakah semua orang dalam FC Anda.  Dalam kisah Perjanjian Lama Raja Ahab mendengarkan 400 nabi Baal yang mengatakan hal yang sama yang ingin ia dengar. Tetapi hanya 1 nabi yaitu Elia yang berani mengatakan kebenaran yang berbeda dengan para nabi Baal yang sungguh perlu didengar Raja Ahab (1 Raja-raja 18). Pointnya adalah Anda selalu akan menemukan orang yang akan mengkonfirmasi pikiran dan perasaan yang Anda inginkan. Apalagi jika orang tersebut berprinsip ABS (Asal Bapak Senang). Ini hal yang sangat menyedihkan.



6. Here we go again/Expecting the worst. Self fulfilling prophecy. Anda mengharapkan yang terburuk. Nubuat yang dipenuhi sendiri. Overgeneralization. Generalisasi yang berlebihan: Anda mengambil kesimpulan secara umum hanya berdasarkan kejadian tunggal atau hanya satu bukti. Jika sesuatu yang buruk terjadi sekali, Anda mengharapkan hal itu terjadi berulang-ulang. 'Selalu' dan 'tidak pernah' adalah isyarat bahwa gaya berpikir ini sedang digunakan. Pola berpikir distorsi ini dapat menyebabkan hidup yang serba terbatas, karena Anda berusaha menghindari kegagalan di masa depan hanya berdasarkan insiden atau peristiwa tunggal di masa lalu. Dalam hidup ini seringkali terjadi hal-hal yang benar-benar mengagumkan. Jika Anda benar-benar mengharapkan yang terbaik terjadi dalam hidup Anda, maka segala kekuatan pikiran, kreativitas, semangat dan energi akan menjadi fokus dan menuju ke arah yang Anda harapkan. Jika Anda sangat serius mengharapkan yang terburuk terjadi, maka segala sumber daya yang Anda miliki akan difokuskan kepada hal buruk tersebut. Jadi berhati-hatilah dalam pengharapan yang Anda miliki. Terutama jika Anda cenderung over-sensitive. Pengharapan sangat menentukan masa depan yang disediakan Allah bagi Anda dan warisan seperti apa yang akan Anda terima. Rasul Paulus menunjukkan:  Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. (Titus 2:12-14) 
7.   It’s not the same it is difference. You justify the way your feel and reflect it to other people. Ini tidak sama, ini berbeda. Anda membenarkan perasaan Anda dan merefleksikannya kepada orang lain. Anda melakukan mind reading (membaca pikiran): Tanpa mereka mengatakan begitu, Anda tahu apa yang orang lain rasakan dan mengapa mereka bertindak seperti yang mereka lakukan. Secara khusus, Anda secara ilahi dapat menentukan bagaimana perasaan orang terhadap Anda. Membaca pikiran tergantung pada proses yang disebut proyeksi. Anda membayangkan bahwa orang merasakan hal yang sama seperti Anda dan bereaksi terhadap hal-hal dengan cara yang sama seperti yang Anda lakukan. Oleh karena itu, Anda tidak memperhatikan atau mendengarkan cukup hati-hati untuk sungguh-sungguh melihat bahwa mereka benar-benar berbeda. Pembaca pikiran melompat ke kesimpulan yang benar bagi mereka, tanpa memeriksa apakah asumsi mereka benar untuk orang lain.
8.    My feeling are right and justify. Perasaan saya benar dan adil. Anda percaya bahwa Anda benar dan menganggap orang lain salah. Inilah salah satu strategi tipuan Iblis yang licin dan sangat berbahaya yang diumpankan kepada pikiran kita. Berpikir menjadi Benar: Anda merasa terus-menerus dalam masa percobaan untuk membuktikan bahwa pendapat-pendapat dan tindakan-tindakan Andalah yang benar. Menjadi salah adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Anda dan Anda akan berjalan sejauh mungkin hanya untuk menunjukkan kebenaran Anda. Pikiran bahwa Anda harus menjadi 'benar' seringkali membuat Anda sulit mendengarkan orang lain. Anda tidak tertarik pada kemungkinan ada kebenaran pada pendapat yang berbeda, hanya untuk membela pendapat Anda sendiri. Menjadi benar menjadi lebih penting daripada hubungan yang jujur dan saling peduli.
9.   What the difference an apology being made. When say sorry is not enough. Anda merasa layak untuk menerima permintaan maaf. Jika sering dilukai (terutama oleh orang yang paling Anda percaya atau Anda anggap harus bisa dipercaya) Anda akan sampai kepada satu titik dimana permintaan maaf tidak akan mempan lagi bagi Anda. Misalnya pasangan Anda pertama kali melukai Anda dan meminta maaf, Anda mungkin bisa menerima. Tetapi jika ia berulangkali terus mengulang melakukan kesalahan yang sama, maka pernyataan maaf bisa menjadi murah dan dangkal sehingga tidak berarti lagi bagi Anda. Tetapi bagaimana jika seseorang sungguh-sungguh meminta maaf dari dalam hatinya dan ingin berubah tetapi Anda tidak menanggapi? Anda menyimpan kesalahan dalam hati. Anda tidur dengan pikiran itu dan mengulang-ulangnya. Anda membesar-besarkan kesalahan itu. Anda mencari orang yang mengalami hal yang sama dan sepakat dengan kesimpulan bahwa orang yang melakukan kesalahan memang seperti itu. Dst. Sehingga apapun yang ia lakukan Anda akan menganggap dia tidak akan berubah dan pasti akan melakukan kesalahan yang sama. Anda masuk dalam perangkap Si Jahat. Ini hal yang sangat menyedihkan dan membuat Anda terikat atau akan membawa Anda menuju kehancuran.



10.   This is all because of me. Semua ini terjadi karena saya. Karena saya berdoa, karena saya hadir disini. Karena saya berjasa. Anda merasa gereja Anda dan pelayanan Anda diberkati karena peranan Anda yang luar biasa. Megalomaniac. What the part I play is bigger than I’m the part of. Anda merasa pengakuan yang layak Anda terima ternyata tidak diberikan kepada Anda. Persekutuan dan kerjasama yang semula berdasarkan sinergi menjadi pecah karena salah satu pihak merasa lebih berjasa dan peranannya jauh lebih besar dibandingkan yang lain.  Pola berpikir seperti ini merusak suasana dan menghilangkan peranan orang lain dalam kehidupan dan pelayanan Anda serta menghancurkan kerjasama tim.
11. I just wanna be free. Anda mulai berfantasi ada dunia yang lebih baik, bebas dari kesakitan, penderitaan dan hal-hal baik lainnya. Dunia utopia tersebut memang menjadi tujuan dan akan terwujud ketika kita menerima kemuliaan bersama Kristus di dunia yang akan datang. Langit baru, bumi yang baru (Wahyu 21:1). Tetapi bukan di dunia saat ini, karena kita sibuk berperang dengan peranan kuasa gelap yang bekerja tiada henti. Menjadi tugas kita untuk menawan segala pikiran kepada Kristus. Maka dari itu Rasul Paulus menyatakan dalam 2 Korintus 10:5:  Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
12.   It’s all over. Semuanya sudah selesai. Anda mengharapkan bencana. Anda melihat atau mendengar tentang masalah dan mulai berasumsi "bagaimana jika" Bagaimana jika hal itu terjadi kepada saya? Bagaimana jika tragedi menyerang? Tidak ada batasan untuk imajinasi bencana yang benar-benar subur. Sebuah katalisator yang mendasari untuk gaya pemikiran seperti ini adalah bahwa Anda tidak percaya pada diri sendiri dan tidak percaya pada kemampuan Anda untuk beradaptasi dengan perubahan. Akhirnya akar kepahitan menjadi sungguh kuat dan Anda melihat tidak jalan keluar. Semuanya sudah berakhir.
13. This is actually the real me. Fallacy of Change. Inilah saya yang sebenarnya. Pendapat yang keliru tentang Perubahan. Anda berharap bahwa orang lain akan berubah sesuai dengan keinginan Anda; jika Anda terus-menerus menekan atau cukup berusaha untuk membujuk mereka. Anda perlu mengubah orang karena harapan Anda untuk kebahagiaan tampaknya tergantung sepenuhnya pada mereka. Kenyataan sebenarnya adalah satu-satunya orang yang benar-benar dapat mengontrol atau memiliki banyak harapan untuk berubah adalah diri Anda sendiri. Perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan. Asumsi yang mendasari gaya berpikir ini adalah bahwa kebahagiaan Anda tergantung pada tindakan orang lain. Dengan meyakini asumsi ini berarti Anda sedang melepaskan tanggungjawab. Sesungguhnya kebahagiaan Anda benar-benar tergantung pada ribuan pilihan baik besar maupun kecil yang Anda buat dalam kehidupan Anda setiap saat.
14.  It’s all my fault. Ini semua kesalahan saya. Pada point sebelumnya Anda menganggap diri Anda benar dan orang lain salah. Sekarang bandul bergerak ke arah berlawanan dan Anda menimpakan semua kesalahan kepada diri Anda. Kesalahan pola berpikir pengendalian internal menjadikan Anda merasa bertanggung jawab untuk rasa sakit dan kebahagiaan dari semua orang di sekitar Anda. Pola berpikir ini membuat Anda lelah ketika Anda mencoba untuk mengisi kebutuhan semua orang di sekitar Anda, dan merasa bertanggung jawab dalam melakukannya (dan bersalah ketika Anda tidak bisa). Whatever happen in your life never develop a wounded spirit. Hidup ini adalah pilihan. Setiap orang dalam hidup diberi kesempatan untuk memilih. Bahkan pada tahap ini, jika ada seorang Hamba Tuhan berbicara dari mimbar tentang karakter secara umum Anda tergoda untuk berpikir: You obviously talk about me. Yang sebenarnya adalah it is not about You. It is about Jesus.
15. The cork is out of the bottle. Tutup botol sampanye sudah copot dari botolnya. Goncangan berulang-ulang terjadi dan ledakan datang, maka cairan minuman itu akan keluar dengan kecepatan tinggi; sampai habis. Seseorang yang terjebak pada point 15 ini akan menyalahkan semua orang. Menghakimi semua orang. Mengatakan lingkungan sudah rusak, dunia sudah hancur, dst. Pola berpikir seperti ini benar-benar meracuni dan merusak lingkungan sekitarnya. Orang yang berpola pikir seperti ini jika pergi dan keluar dari suatu lingkungan, maka lingkungan itu justru menjadi lebih bersih dan tenang. Semuanya menjadi lebih baik dan damai sejahtera. Jika Anda berteman dengan orang seperti ini dan setelah diusahakan konseling tidak mau berubah dan dia mulai menyakiti dan menyerang Anda, maka sudah saatnya mengganti teman Anda. Bagaimana jika orang itu adalah Anda sendiri? Tidak ada jalan lain kecuali datang kepada Yesus dan bertobat.  Selagi ada kesempatan.




DAPATKAN BUKU TULISAN STEPHANUS TEDY DI TOKOPEDIA




[1] Hati dipandang sebagai pusat kediaman hidup di dalam Perjanjian Lama (Amsal 7:23 dan Yesaya 10:16), sebagai pusat perasaan-perasaan (Ratapan 2:11) dan sebagai pusat pikiran (Kejadian 49:6). Hati tidak berperan di dalam ibadat, berbeda dengan di Asyur dan di Babilonia. Di situ mereka mencari kehendak Tuhan atau nasib hari-depan (--> orakel) lewat tempat dan lipatan hati binatang kurban. Kebiasaan untuk melihat keadaan hati secara demikian berpindah pada bangsa Etruski, Yunani dan Romawi.

BAHAYA GOSIP DALAM KEHIDUPAN DAN PELAYANAN





SIFAT GOSIP YANG MERUSAK




Setiap organisasi, perusahaan, atau gereja pasti ada penggosip yang berperan sebagai boss mafia gosip (gossip’s godfather). Mereka yang pertama kali menelpon atau mengirimkan e-mail, BBM / WhatsApp desas-desus atau berita sedih (tragedi) terbaru sekitar organisasi.

Tindakan pengecut, meracuni dan tidak bertanggungjawab ini kadangkala menjadi seperti makanan harian. Gosip seperti barang curian. Pelaku gosip adalah pencuri dan pendengar gosip adalah penadah barang curian. Keduanya bersalah. Gosip mudah menyebar dengan kecepatan super seperti kereta Shinkasen, bahkan jet supersonik atau secepat mata berkedip.

Gosip secara alamiah akan merusak kepercayaan, membuat orang yang digosipi sakit hati, menghancurkan hubungan baik dan merupakan budaya buruk yang meracuni suasana kerohanian.

Perilaku gosip akan menciptakan kesan orang Kristen yang jelek (Ugly Christian), menimbulkan perselisihan dan menciptakan perpecahan. Semua ini tidak akan menarik orang datang kepada Kristus.

Firman Tuhan mengatakan: 


Pro 10:11  The mouth of a righteous man is a well of life: but violence covereth the mouth of the wicked. Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman.  (Ams 10:11).  

Pernyataan berikut cukup berguna untuk meredam gosip yang merusak:  


“If you did not see with your own eyes or hear it with your own ears, don’t invented with your small mind or speak and share it with your big mouth” - Christine Caine

[Jika Anda tidak melihat dengan mata Anda sendiri atau langsung mendengar dengan kedua telinga Anda, jangan merekayasa dengan pikiran Anda yang kerdil dan menyebarkannya dengan mulut Anda yang besar - Christine Caine]. 

Untuk melayani dengan efektif dan maksimal diperlukan lingkungan kerohanian (spiritual ambiance) yang bersih dan mendukung. Meminum dari sumber air yang bersih. Setiap pemimpin dan anggota tim bertanggungjawab untuk menciptakannya. Pastikan bahwa jika seseorang menghubungi Anda hanya untuk alasan yang baik dan hanya membicarakan hal-hal yang berguna.




Ted23102017