Arminian and Calvinis

Picture source: commons.wikimedia.org

Sedari kecil, saya sangat suka membaca berbagai buku. Banyak buku yang sudah mempengaruhi pola berpikir saya. Bicara tentang Teologi Reformed pasti bicara tentang ajaran Bapa gereja Agustinus dan reformator John Calvin. Bicara tentang Kedaulatan Allah (The Souvereignty of God) dan predestinasi. Tapi disisi lain ada juga kelompok Arminian. Kedua kelompok ini saling berseberangan pendapat. Para Teolognya saling menyerang satu sama lain secara teologis melalui media. Dengan melihat dan membaca perdebatan mereka saja, kita akan belajar banyak sekali. Saya melihat kedua paham ini seperti kedua sisi koin mata uang. Di satu sisi pengikut Calvin berbicara tentang Kedaulatan Allah. Disisi lain, pengikut Arminian membicarakan Kehendak Bebas (Free-Will). Calvin memandang dari sisi Alllah (Theosentris). Arminian memandang dari sisi manusia (Anthroposentris). Tentu saja istilah Arminianisme dan Calvinisme, tidak ada dalam Alkitab. Kedua istilah itu diciptakan oleh pengikut ajaran John Calvin dan pengikut ajaran Jacobus Arminius. Sama seperti kita, mereka adalah manusia, bukan Tuhan. Oleh sebab itu, walaupun kagum atas tokoh diatas, saya cenderung menghindari untuk mendefinisikan diri sebagai salah satu pengikutnya. Bukan Arminian; Bukan Calvinis. Tetapi saya adalah pengikut seorang guru sorgawi mantan tukang kayu dari Galilea yang mati disalib karena dosa-dosa kita semua, yaitu Yesus Kristus. 

Saya percaya bahwa ajaran mereka masing-masing dalam memahami Alkitab ada kebenarannya.

Tapi dalam praktek, pasti ada juga kelemahannya. Jika pengikut Calvinis betul-betul benar, mengapa muncul ajaran Arminian? Tapi saya lebih cenderung sedikit ke ajaran Calvin dalam memahami Alkitab. Coba perhatikan Alkitab yang ada referensi silangnya (cross-reference). Jika kita mempelajari Alkitab dengan teliti dan mengikuti referensi silang itu, akan mendapat pemahaman yang cukup konsisten tentang suatu pengajaran. Dan itu mirip dengan konsistensi Teologi Reformed yang didominasi ajaran Calvin. Saya percaya bahwa Teologi Reformed sedikit lebih tepat dalam memahami Alkitab. Tetapi saya bukan seorang anggota gereja Reformed. Saya berjemaat di Gereja Bethel Indonesia Jemaat Basilea. Ya, gereja karismatik! Saya percaya semua karunia Roh Kudus yang dinyatakan Alkitab masih berlaku sampai sekarang. Itulah sebabnya artikel ini ditulis. Supaya menjadi berkat bagi gereja-gereja yang ada di Indonesia. Ini bukan teologi jenis baru tapi memang sudah ada dalam Alkitab. Teologi Alkitabiah! Saya percaya apa yang tertulis di Alkitab adalah kebenaran. Alkitab adalah Firman Allah. 

Dari apa yang Alkitab ajarkan; dan dari apa yang saya pelajari tentang sifat manusia dari sejarah dan menganalisa situasi yang ada sekarang; saya tidak percaya bahwa manusia dapat mengambil bagian dalam menentukan keselamatannya.

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. (Roma 7:19)

Dari Kitab Kejadian sampai Kitab Maleakhi berulangkali Allah Bapa berusaha berbicara dengan perantara patriak, hakim-hakim, nabi-nabi. Semua gagal. Sampai nabi terakhir sebelum Yesus: Yohanes Pembaptis. Gagal. Akibat kedegilan hati manusia, kepala Yohanes Pembaptis tersaji di atas nampan (Mat. 14:11: Mrk 6:27; Luk. 9:9). 

Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal. (Yohanes 3:16)

Seorang teman [i] mengatakan begini: 

"Bayangkan tiba-tiba Anda tergelincir dan terbenam dalam lumpur yang mengisap Anda semakin dalam. Semakin Anda bergerak dan berjuang mati-matian, semakin dalam Anda terhisap. Ketika dagu Anda mulai masuk ke dalam lumpur, Anda segera menarik napas sedalam-dalamnya. Sambil menjulurkan tangan ke atas, mulut, hidung, dahi dan kepala Anda terus tenggelam. Sambil menahan napas Anda menyisakan telapak tangan di permukaan lumpur. Tiba-tiba seseorang dengan tenaga yang luar biasa kuat meraih tangan Anda dan menarik Anda keluar dari lumpur tersebut. Anda selamat !” Itulah Teologi Arminian. 

Calvinisme mengatakan bahwa Anda adalah mayat. Mayat yang sudah mati dan membusuk. Tapi Tuhan atas anugerah-Nya menghidupkan kembali mayat itu. Sama seperti orang buta yang ingin melihat sesuatu. Berapa banyak cahaya yang diperlukan untuk membuat seorang buta melihat? Intinya sama. Seorang buta tidak akan dapat melihat. Sama halnya seperti orang yang sudah mati dan tidak akan bisa menggerakkan bulu matanya sedikitpun; sampai Allah Bapa menghidupkan kita kembali. 

Jika Allah Bapa tidak menghampiri dan membangkitkan kita, kita adalah orang binasa. Soli Deo Gloria !.

Untuk menjadi pengikut Kristus, saya hanya perlu percaya bahwa Yesus Kristus sudah menebus saya dari dosa-dosa dan meminta ampun kepada-Nya. Baik kelompok Calvinis dan Arminian setuju akan hal ini. 

Oleh sebab itu, apapun Teologi yang saya yakini, saya harus bisa bekerjasama untuk Kerajaan Allah dengan sesama pengikut Kristus, baik mereka kelompok Arminian maupun kelompok Calvinis. Katolik atau Protestan. Pentakosta maupun Karismatik. Selama kelompok itu percaya akan otoritas Alkitab. Percaya kepada Allah Tri Tunggal (Trinitas) dan mengamini Pengakuan Iman Rasuli / Kredo Para Rasul. 

Jika kita ingin memberikan kritik yang membangun, silahkan. Lakukan dengan cara yang pantas dan proporsional. Dan yang lebih penting, berikan solusi. Jangan asal kritik tanpa memberikan solusi. Itu sama saja dengan tindakan melukai. Belajarlah tehnik memberi kritik dari nabi Natan. Jangan seperti Yohanes Pembaptis. 

Injil terhambat gara-gara kita dengan segala keegoisan kita menghabiskan waktu untuk saling menyerang. Kedagingan kita puas, tapi tidak menyadari tindakan itu memberi sumbangan dalam menghambat Injil. Tidak memberikan teladan yang baik kepada orang yang ingin kita beritakan Kabar Baik. Saat ini, sudah bukan zamannya lagi kita menghabiskan waktu untuk menyerang, menyakiti dan memaksakan teologi kita tanpa memberikan solusi kepada sesama pengikut Kristus. Dan bertindak egois, merasa diri paling benar, paling hebat dengan menolak mentah-mentah untuk bekerjasama dalam membangun, memberdayakan dan memberkati negara kita. 

Soli Deo Gloria !


0 comments:

Post a Comment